Lewat Z-Coffee BAZNAS Mahasiswa UNISNU Jepara, Raup Omzet Rp500.000/hari

Melalui program Z-Coffee BAZNAS Muhammad Alfa Khoiruzzulfa mahasiswa UNISNU Jepara, raup omzet hingga Rp500 ribu per hari. (Istimewa)

JAKARTA - Program pemberdayaan ekonomi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melalui ZCoffee terbukti mampu mendorong kemandirian mahasiswa. Salah satu penerima manfaatnya, Muhammad Alfa Khoiruzzulfa, mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, kini mampu membiayai kuliah sekaligus memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri.

Mahasiswa yang disapa Alpeng itu menjalankan usaha sebagai barista ZCoffee di lingkungan kampus. Dari usaha tersebut, ia mencatatkan omzet harian rata-rata antara Rp350 ribu hingga Rp500 ribu.

Sekretaris Utama BAZNAS RI, Dr. KH. Subhan Cholid, menyampaikan bahwa program ZCoffee merupakan bagian dari upaya pemberdayaan mustahik agar lebih mandiri secara ekonomi, termasuk di kalangan mahasiswa.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, mahasiswa mampu menjadi pelaku usaha yang tangguh. Program ini juga menjadi bentuk amanah dari para muzaki yang dikelola secara produktif,” ujar Subhan dalam keterangan tertulis, pada Senin (20/4/2026).

Ia menambahkan, BAZNAS terus mendorong pengelolaan zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif dan berkelanjutan. ZCoffee, menurutnya, dirancang bukan sekadar sebagai sumber penghasilan, melainkan juga sebagai sarana pembelajaran kewirausahaan.

“Mahasiswa dilatih mulai dari manajemen usaha, pelayanan konsumen, hingga pengelolaan keuangan secara sederhana namun efektif,” katanya.

BAZNAS juga berkomitmen memperluas jangkauan program serupa agar semakin banyak penerima manfaat yang merasakan dampaknya di berbagai daerah.

Sementara itu, Alpeng mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan. Sebagai mahasiswa perantau, ia merasakan langsung manfaat program tersebut dalam menunjang kebutuhan hidup dan pendidikan.

“Dari ZCoffee, saya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari sampai biaya kuliah. Ini bukan hanya pekerjaan, tapi juga jalan untuk mengejar cita-cita,” tuturnya.

Ia menyebutkan, rata-rata sekitar 25 cup minuman terjual setiap hari dari booth kecilnya. Menu Banana Coffee dan Butterscotch menjadi favorit mahasiswa, sementara Matcha lebih banyak diminati mahasiswi.

Kisah Alpeng menjadi contoh nyata bagaimana program zakat produktif mampu menciptakan kemandirian ekonomi sekaligus membuka peluang usaha bagi generasi muda, jelasnya. (Mr)