Film Aku Harus Mati Ajak Penonton Refleksi diri tentang Ambisi dan Validasi
Singgalangnews.com,Jakarta – Di era media sosial yang serba tampil mewah, banyak orang terjebak dalam lingkaran hutang demi memenuhi ego dan nafsu. Film "Aku Harus Mati" hadir sebagai refleksi keras akan bahaya ambisi yang tak terkendali.
“Di era modern, banyak orang merasa harus terlihat berhasil dan diakui oleh lingkungan.
Tekanan itu kadang membuat seseorang tergoda mencari cara instan untuk mencapai
kesuksesan. Film “Aku Harus Mati” akan mengajak kita untuk berpikir, apakah mereka yang rajin flexing di media sosial, murni sukses hasil kerja keras atau malah hasil pesugihan?” ucap
Irsan Yapto, Executive Producer, Kamis kemarin saat peluncuran film di epicentrum, Kuningan, Jakarta.
Ujar Irsan Yapto lagi, film ini menggambarkan kehidupan manusia modern jaman kini.
"Aku Harus Mati adalah film Horor yang ceritanya paling dekat dengan kehidupan manusia modern jaman kini. Fenomena Jual Jiwa Demi Harta, banyak dialami masyarakat modern. Mereka
rela mengorbankan diri dan jiwa demi validasi dan harta sampai terlilit hutang pinjol,
paylater, dan lain-lain,”.
Film yang akan tayang pada 2 April 2026 ini, dibintangi; Hana Saraswati sebagai Mala.
Amara Sophie sebagai Tiwi.
Prasetya Agni sebagai Nugra.
Mila Rosinta sebagai Nilam
Bambang Paningron sebagai Ki Jago dan produksi Rollink Action dengan Eksekutif Produser, Irsan Yapto dan Nadya Yapto, Sutradara: Hestu Saputra serta penulis Naskah Aroe Ama.
“Lewat film “Aku Harus Mati”, kami ingin mengajak penonton untuk merenungkan kembali,
bagaimana ambisi dan kebutuhan akan validasi bisa membuat seseorang kehilangan arah. Film
ini menjadi pengingat bahwa keindahan dunia sering kali menipu. Ketahuilah, kesuksesan sejati
seharusnya datang dari proses kerja keras dan integritas, bukan dari jalan pintas yang pada akhirnya bisa menghancurkan diri sendiri dan orang sekitar.” ujar Hestu Saputra, Sutradara.
Sinopsis film ini, ditulis oleh Aroe Ama bernarasikan perjalanan Mala (Hana Saraswati), seorang
yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik. Demi mengejar kemewahan semu, Mala
terjerumus dalam lingkaran setan hutang pinjaman online (pinjol) dan paylater yang melilit hidupnya.
Dalam keputusasaan untuk menemukan kembali jati dirinya, Mala memutuskan pulang ke panti asuhan tempat ia dibesarkan. Di sana, ia kembali bertemu dengan sahabat masa kecilnya, Tiwi
(Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jago (Bambang Paningron), pemilik panti yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri.
Namun, ketenangan yang dicari Mala justru menjadi awal dari petaka.
Setelah mata batinnya
terbuka secara misterius, Mala terlempar ke dalam serangkaian pengalaman mistis yang mengerikan.
Mala dipaksa menghadapi kenyataan pahit tentang asal-usulnya dan rahasia kelam keluarganya: sebuah perjanjian iblis yang menjadikan nyawa orang-orang terdekat sebagai
tumbal kesuksesan.
"Aku Harus Mati" membawa penonton pada klimaks yang menyesakkan dada. Mala harus menghadapi pilihan mustahil yang tidak bisa ia tolak, karena ada nyawa yang harus dibayar.
"Film ini adalah refleksi dari fenomena 'jual jiwa demi harta' yang marak di sekitar kita.
Kami ingin memperlihatkan bahwa teror sesungguhnya dimulai ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri demi memuaskan gaya hidup dan validasi diri oleh lingkungan sekitar," pungkas Hestu Saputra. (Dd)









Tulis Komentar