Beasiswa Amartha Antar Putri Mitra Usaha dari Padang Kuliah Sains di Malaysia

Salma Putri Insani, penerima Beasiswa Amartha sekaligus ASEAN Chairman. (Doc.)

PADANG – Mimpi menjadi ilmuwan membawa Salma, putri seorang mitra usaha binaan Amartha asal Lubuk Kilangan, Padang, melanjutkan studi ke luar negeri. Penerima Beasiswa Amartha Cendekia Batch 1 itu kini menempuh pendidikan di Albukhary International University, Malaysia.

Salma merupakan anak dari Eny, pelaku usaha mikro yang menjadi mitra binaan Amartha. Sejak kecil, ia dibesarkan dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan.

“Ibu ingin anak-anak punya kesempatan yang lebih luas lewat pendidikan supaya mereka bisa mewujudkan impian mereka,” ujar Eny.

Bercita-cita Jadi Peneliti Neuroscience

Salma memiliki ketertarikan kuat pada bidang neuroscience dan bercita-cita menjadi peneliti yang berfokus pada perkembangan anak. Minat tersebut tumbuh sejak masa sekolah, ketika ia melihat cara lingkungan sering membentuk persepsi anak terhadap kemampuan dirinya.

“Aku melihat masih banyak orang menilai kemampuan hanya dari peringkat atau siapa yang jadi nomor satu. Padahal cara kerja otak manusia jauh lebih luas dan adaptif,” ujar Salma.

Ia ingin riset yang kelak digelutinya mampu membantu anak-anak tumbuh lebih sehat dan percaya diri, sekaligus mendorong orang tua untuk mendampingi tanpa menghakimi.

Untuk memperkuat fondasi keilmuannya, Salma memilih menekuni computer science yang dinilainya memiliki keterkaitan erat dengan neuroscience, terutama dalam memahami cara otak memproses dan menghubungkan berbagai informasi.

Lebih dari Sekadar Bantuan Dana

Perjalanan akademik Salma tidak instan. Ia aktif mengikuti kompetisi, organisasi, menjalankan proyek sosial, hingga bergabung dengan lembaga swadaya masyarakat di bidang pendidikan. Ia juga secara mandiri mencari peluang beasiswa untuk mewujudkan mimpinya kuliah tanpa membebani orang tua.

Program Beasiswa Amartha Cendekia mendukung siswa kelas 11 SMA/SMK di seluruh Indonesia melalui bantuan dana pendidikan Rp3 juta dan program mentoring selama satu tahun oleh Kakak Asuh dari kalangan profesional. Penerima yang berhasil diterima di universitas juga memperoleh tambahan dana pendidikan Rp5 juta.

Bagi Salma, kehadiran Kakak Asuh menjadi nilai tambah yang signifikan.

“Selama ini aku hanya dapat perspektif dari ibu. Dengan adanya Kakak Asuh, wawasan tentang pendidikan tinggi, dunia kerja, dan cara menyusun prioritas hidup jadi semakin terbuka,” katanya.

Diterima di Sejumlah Kampus Dunia

Dalam proses seleksi perguruan tinggi, Salma mendaftar ke puluhan universitas di berbagai negara, termasuk Kanada, Malaysia, dan Australia. Ia diterima di sejumlah kampus ternama seperti University of Melbourne dan University of Toronto.

Meski memiliki beberapa pilihan, ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada Albukhary International University karena program yang dinilai lebih sesuai dengan minatnya serta lokasi yang lebih dekat dengan Indonesia.

Salma mengakui sempat merasa putus asa ketika beberapa beasiswa yang diincarnya tidak membuka pendaftaran. Namun ia terus mencoba hingga menemukan peluang yang tepat.

“As long as I have a purpose, I can do everything,” ujarnya.

Ia juga menegaskan sejak awal ingin menempuh pendidikan dengan beasiswa penuh agar tidak membebani kondisi ekonomi keluarga.

Kisah Salma menjadi contoh bagaimana dukungan keluarga, akses pembiayaan pendidikan, dan ketekunan pribadi dapat membuka jalan menuju pendidikan global.

Bagi Amartha, program beasiswa ini diharapkan menjadi jembatan lahirnya generasi muda berprestasi dari keluarga pelaku usaha mikro di berbagai daerah Indonesia, pungkasnya. (R)