Sasa–IPB Dorong Hilirisasi Kelapa, Fokus Perkuat Rantai Pasok dan Kesejahteraan Petani
BOGOR - PT Sasa Inti (Sasa) gandeng Institut Pertanian Bogor untuk memperkuat masa depan industri kelapa nasional melalui penguatan rantai pasok dan kemitraan berkelanjutan.
Kolaborasi ini dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Kapasitas Sistem Rantai Pasok dan Model Kemitraan Penyediaan Bahan Baku Kelapa melalui Kerja Sama Pentahelix.”
FGD tersebut menjadi forum multipihak yang mempertemukan akademisi, pemerintah, pelaku industri, hingga kelompok petani guna merumuskan strategi penguatan ekosistem kelapa yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Chief Manufacturing Officer PT Sasa Inti, Snowerdi Sumardi, menegaskan bahwa kelapa tidak hanya menjadi bahan baku industri, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat. “Penguatan rantai pasok harus dirancang komprehensif agar mampu menjawab tantangan pasar sekaligus memberi nilai tambah yang adil bagi petani,” ujarnya.
Sebagai salah satu komoditas strategis, kelapa memiliki peran penting dalam industri pangan nasional. Di Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Minahasa Selatan, kelapa menjadi tulang punggung ekonomi daerah dengan luas perkebunan mencapai puluhan ribu hektare dan produksi puluhan ribu ton per tahun.
Namun, meningkatnya aktivitas industri pengolahan di wilayah sentra produksi turut memicu persaingan bahan baku. Kondisi ini berdampak pada fluktuasi harga dan stabilitas pasokan di tingkat petani, sehingga diperlukan sistem rantai pasok yang lebih kuat dan berimbang.
Melalui kerangka Sasa Sustainability Framework, perusahaan telah menjalankan program pemberdayaan petani sejak 2024. Program ini mencakup penguatan kemitraan hulu–hilir, edukasi agronomi modern, serta pendampingan berkelanjutan guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Head of Stakeholder Relation PT Sasa Inti, Rida Atmiyanti, menyebut keberlanjutan rantai pasok tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan petani. “Kami mendorong kemitraan jangka panjang yang memberikan kepastian serapan hasil sekaligus meningkatkan daya saing produk,” katanya.
Diskusi juga menyoroti pentingnya dukungan pendanaan, termasuk peluang dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), yang sejak 2024 telah memasukkan kelapa sebagai salah satu komoditas kelolaannya.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Hariyadi, menilai pendekatan berbasis riset dan data menjadi kunci dalam memperkuat rantai pasok kelapa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, A. Faroby Falatehan, menekankan bahwa kolaborasi akademisi dan industri mampu mempercepat hilirisasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
FGD yang digelar secara hybrid dari Bogor, Manado, dan Minahasa Selatan ini berharap menghasilkan rekomendasi strategis dapat diimplementasikan secara nyata. Sinergi pentahelix dinilai menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem kelapa nasional yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan. (R)










Tulis Komentar