Dude Harlino dan Peserta Tunanetra Soroti Pengalaman Non-Visual
Singgalangnews.com,Jakarta-Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi LSPR dan Yayasan Mitra Netra menggelar "Ruang KolaboRASA" dan "Diskusi Inklusi" untuk meningkatkan komunikasi inklusif bagi penyandang disabilitas netra di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini membahas dominasi pendekatan visual dalam komunikasi merek dan pengalaman publik, serta pentingnya pendekatan multisensorik (aroma, suara, sentuhan, narasi deskriptif) untuk memberikan pengalaman setara bagi penyandang tunanetra.
Narasumber memperkenalkan diri dengan mendeskripsikan penampilan fisiknya, membantu peserta tunanetra membangun gambaran tentang pembicara dan menekankan pentingnya komunikasi inklusif.
Diskusi "Aroma, Ingatan, dan Pengalaman" menghadirkan Hersinta, Ph.D. yang menjelaskan bahwa aroma terkait langsung dengan memori dan emosi, sehingga menghadirkan kedekatan spontan.
“Sebagian besar pengalaman publik dirancang berbasis visual. Padahal pendekatan multisensorik membuka peluang agar pengalaman dapat dirasakan lebih luas dan lebih setara,” ujarnya.
Cheta Nilawaty yang merupakan anggota Yayasan Mitra Netra sekaligus jurnalis tunanetra pertama di Indonesia, menegaskan bahwa inklusi tidak berhenti pada akses fisik semata. “Inklusi bukan hanya soal bisa hadir di suatu ruang, tetapi bagaimana kami dapat merasakan pengalaman itu secara utuh. Elemen aroma, suara, dan penjelasan yang deskriptif membuat kami merasa benar-benar dilibatkan,” ungkapnya.
Seluruh peserta yang merupakan penyandang tunanetra turut membagikan refleksi selama mengikuti diskusi dan sesi KolaboRASA.
Sejumlah peserta menyampaikan bahwa pengalaman berbasis aroma terasa lebih personal dan membekas dibanding pendekatan visual yang selama ini mendominasi ruang publik.
“Saat mencium aroma tadi, saya langsung teringat suasana rumah dan momen hangat bersama keluarga. Pengalaman seperti ini membuat saya merasa sungguh diikutsertakan,” ujar Suryo.
Peserta lain menambahkan bahwa kesempatan menyentuh adonan secara langsung menghadirkan perspektif baru terhadap produk yang sebelumnya hanya dikenal melalui cerita. Ketika prosesnya dapat dirasakan secara taktil, pengalaman tersebut menjadi lebih nyata dan lebih dekat.
Pesan inklusi juga diperkuat melalui testimoni publik pigur Dude Harlino yang disampaikan melalui pemutaran audio. Dalam pesannya, ia menyatakan dukungan terhadap inisiatif yang mendorong pengalaman publik yang lebih inklusif serta mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kebutuhan penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi eksplorasi adonan roti kopi yang dikenal luas di masyarakat. Peserta diajak merasakan tekstur adonan serta memahami transformasinya hingga menghasilkan aroma kopi khas.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa interaksi dengan produk dapat dirancang melalui pengalaman taktil dan sensorik, tidak semata-mata visual.
Perwakilan mahasiswi Pascasarjana LSPR, Baby Bintansyah menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proyek yang bertujuan menghimpun insight langsung dari komunitas.
“Sebagai mahasiswa sekaligus penyandang low vision, ruang seperti ini bukan hanya forum diskusi bagi saya, tetapi ruang pengakuan. “Di sini, pengalaman kami tidak sekadar didengar, melainkan dihargai dan dijadikan dasar untuk perubahan. Saya berharap inisiatif seperti ini terus tumbuh, agar semakin banyak ruang publik yang benar-benar melihat kami sebagai bagian utuh dari masyarakat,” ungkapnya penuh harap.
Senada dengan itu, Labaika Natin mahasiswi sekaligus praktisi digital marketing dan komunikasi, menekankan pentingnya menjadikan perspektif komunitas sebagai fondasi strategi sebuah brand. “Inklusi yang berkelanjutan tidak bisa dibangun dari asumsi, melainkan dari insight yang diperoleh langsung dari pengalaman nyata.
Ketika strategi komunikasi dirumuskan berbasis suara komunitas maka solusi yang lahir akan lebih relevan, terukur, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Andika Wattimena mahasiswa yang juga aktif sebagai praktisi media, menambahkan bahwa representasi yang autentik hanya dapat terwujud melalui pelibatan langsung komunitas dalam proses komunikasi. “Inklusi harus bertumpu pada suara dan perspektif mereka sendiri,” tegasnya.
Diskusi berlangsung partisipatif dan membuka ruang dialog antara akademisi, komunitas, dan publik. Kegiatan ditutup dengan buka puasa bersama sebagai simbol kolaborasi dan komitmen bersama untuk membangun komunikasi serta pengalaman publik yang lebih ramah disabilitas.
Kalau mata tak bisa melihat, biarkan aroma yang menyampaikan maknanya. (Pri)









Tulis Komentar