Kolaborasi Kemenag dan British Council, 613 Guru Madrasah Tuntaskan Pelatihan Bahasa Inggris

Sesi foto bersama Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., dalam acara program peningkatan kompetensi guru Bahasa Inggris madrasah, di Jakarta, pada Kamis (26/2/2026). //Foto Istimewa

JAKARTA - Kementerian Agama RI untuk pertama kalinya menggandeng British Council dalam program peningkatan kompetensi guru Bahasa Inggris madrasah. Kolaborasi ini telah menghasilkan 613 guru MTs dan MA dari hampir seluruh provinsi di Indonesia yang menuntaskan pelatihan pengembangan profesional selama delapan minggu.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman pada November 2025 dan ditutup melalui lokakarya tatap muka di Jakarta pada akhir Februari 2026.

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kualitas guru madrasah di tengah tantangan pendidikan global.

“Kolaborasi ini merupakan langkah konkret mewujudkan Asta Protas Kemenag. Selain itu, juga mendukung kesepakatan dalam Kemitraan Strategis Indonesia–Inggris yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Keir Starmer pada Januari 2026 lalu, di mana pendidikan menjadi salah satu pilar utama kerja sama,” ujarnya.

Pemetaan Kompetensi dan Program Percontohan

Program diawali dengan pemetaan kompetensi untuk mengukur kemampuan pedagogik dan kemahiran Bahasa Inggris guru madrasah. Inisiatif ini dijalankan bersama Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah sebagai dasar penyusunan program Continuing Professional Development (CPD).

Country Director Indonesia and Director Southeast Asia British Council, Summer Xia, menyebut pendekatan pelatihan dilakukan secara daring dengan format terstruktur, didukung e-moderator serta sesi langsung mingguan.

“Sebanyak 613 guru yang tersebar merata di hampir seluruh provinsi di Indonesia kini telah menyelesaikan program ini. Kami memastikan pengembangan profesional berkualitas tinggi dapat diakses oleh para pendidik di mana pun mereka berada,” kata Summer Xia.

Pendekatan berbasis data ini diharapkan menjadi rujukan dalam perencanaan kebijakan pengembangan guru madrasah ke depan.

Dampak di Ruang Kelas

Selama delapan minggu pelaksanaan, perubahan mulai terlihat pada praktik pembelajaran. Guru mengadopsi metode yang lebih berpusat pada siswa serta mendorong interaksi kelas yang lebih aktif. Kepercayaan diri guru dalam menggunakan Bahasa Inggris juga meningkat, berdampak pada partisipasi siswa.

Ni’Matus Zahroh, guru Bahasa Inggris dari MTsN 15 Jombang, mengaku program tersebut membuka ruang pengembangan yang selama ini terbatas.

“Melalui program ini, guru Bahasa Inggris di madrasah bisa memberikan pengajaran yang menyenangkan dan menginspirasi murid untuk terus belajar,” ujarnya.

Menuju Skala Nasional

Meski masih berstatus program percontohan dan baru menjangkau sebagian kecil dari total 41.833 guru madrasah di Indonesia, model pelatihan ini dinilai memiliki potensi untuk diperluas secara nasional.

Kemenag berharap kolaborasi ini dapat menjadi fondasi pembentukan komunitas belajar profesional di kalangan guru madrasah serta menghadirkan dampak sistemik yang berkelanjutan.

Summer Xia menegaskan komitmen British Council untuk memperkuat kapasitas dan mempercepat transfer pengetahuan agar solusi yang dihasilkan tidak hanya efektif saat ini, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang. (R)