Sambut Ramadan, ngaji.ai Menjadi Aplikasi Pendamping Ibadah Harian
Jakarta, Singgalang – Menjelang Ramadan 1447 H, aplikasi belajar mengaji ngaji.ai resmi bertransformasi menjadi aplikasi pendamping ibadah harian. Transformasi ini ditandai dengan pengembangan fitur dan tampilan baru yang dirancang untuk membantu Muslim menjalani ibadah secara lebih terstruktur, konsisten, dan relevan dengan ritme kehidupan modern.
Startup edukasi digital Vokal.ai selaku pengembang mencatat, hingga saat ini ngaji.ai telah digunakan oleh 403 ribu pengguna, dengan sekitar 39 ribu di antaranya berlangganan premium. Rata-rata waktu penggunaan harian tercatat lebih dari tujuh menit per pengguna, menunjukkan tingkat keterlibatan yang dinilai stabil.
Chief Business Development Officer (CBDO) Vokal.ai, Fara Abdullah, mengatakan transformasi ini menjadi momentum penting bagi ngaji.ai untuk berkembang sebagai produk yang berdampak nyata.
“ngaji.ai ingin tumbuh menjadi produk yang matang secara strategi, berdampak nyata dalam penggunaan, dan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman. Banyak orang ingin hidup lebih selaras dengan Al-Qur’an, tetapi merasa kewalahan. Kami ingin hadir untuk menemani, bukan membebani,” ujar Fara dalam keterangannya di Jakarta.
Menurutnya, kebutuhan akan pendamping ibadah yang kontekstual semakin terasa di tengah kesibukan masyarakat urban. Karena itu, ngaji.ai tidak lagi hanya berfokus pada pembelajaran membaca Al-Qur’an, tetapi juga membantu pengguna menjalani praktik ibadah harian.
Chief Operating Officer Vokal.ai, Vanya Sunanto, menambahkan bahwa pendekatan aplikasi kini lebih menekankan konsistensi. “Ini bukan aplikasi yang dibuka sekali lalu ditinggalkan. Pengguna kembali setiap hari karena merasa ditemani,” ujarnya.
Transformasi tersebut diwujudkan melalui pembaruan homepage dan penambahan sejumlah fitur utama, seperti fitur Sholat untuk pencatatan ibadah wajib lima waktu, Doa dan Dzikir harian, serta fitur Ikhtiar.
Melalui fitur Ikhtiar, pengguna diajak memilih satu fokus amalan selama tujuh hari, seperti menjaga lisan, memperbaiki ketepatan waktu salat, atau membiasakan dzikir. Setiap fokus dibagi ke dalam tugas-tugas kecil agar terasa lebih ringan dan realistis.
Pengguna ngaji.ai, Verti Tri Wahyuni, menilai pendekatan ini membantu menjaga konsistensi ibadah. “Target besar dipecah jadi langkah kecil, jadi tidak terasa menekan,” katanya.
Ekspansi dan Kolaborasi Sosial
Memasuki 2026, ngaji.ai juga menyiapkan langkah ekspansi melalui kerja sama strategis dengan institusi bisnis dan pemerintah. Perusahaan bahkan membuka peluang ekspansi ke pasar Asia Tenggara yang memiliki sekitar 290 juta populasi Muslim.
“Kami melihat peluang besar menghadirkan pendamping ibadah yang memahami konteks budaya dan kebutuhan Muslim masa kini,” kata Fara.
Di sisi sosial, ngaji.ai melanjutkan kolaborasi dengan Rumah Zakat yang kini memasuki tahun kedua. Sebanyak 25 persen pembelian langganan premium dialokasikan untuk program kemanusiaan, termasuk bantuan untuk Palestina. Kerja sama tersebut kemudian diperluas ke sektor pendidikan, kebencanaan, dan program Ramadan.
Selain itu, ngaji.ai juga menjalin kemitraan dengan institusi pendidikan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kota Bandung, serta komunitas Muslim dan mitra gaya hidup seperti Noore Sport dan One Day One Juz.
Vanya menegaskan, Ramadan 1447 H diharapkan menjadi titik awal membangun kebiasaan ibadah yang berkelanjutan. “Ramadan bukan puncak, tetapi awal untuk membangun konsistensi. Untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, cukup mulai dari langkah kecil, satu ikhtiar pada satu waktu,” pungkasnya. (sm)










Tulis Komentar